Paradigma Penelitian Kualitatif

17/01/2012

Paradigma Penelitian

Bagaimana penelitian dilakukan? Sebelum melakukan pilihan pendekatan (approach), metode (method), teknik (technique) atau pun cara dan piranti (ways and instruments), peneliti menetapkan cara pandang yang digunakan terhadap bahan dan tujuan kajiannya. Cara pandang mendasar ini disebut paradigma kajian (paradigm of inquiry). Denzin dan Lincoln (eds.) (1994: 99) menjelaskan paradigma sebagai “ …a basic set of beliefs that guide action. Paradigms deal with first principles, or ultimates ”.

Jadi, paradigma adalah pandangan mendasar mengenai pokok persoalan, tujuan, dan sifat dasar bahan kajian. Dalam suatu paradigma terkandung sejumlah pendekatan. Dalam suatu pendekatan terkandung sejumlah metode. Dalam suatu metode terkandung sejumlah teknik. Sedangkan dalam suatu teknik terkandung sejumlah cara dan piranti.

Selaras dengan tinjauan aksiologik, dalam khasanah metodologi penelitian atau kajian dikenal, paling tidak, tiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive pardigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach).

Ada sejumlah butir pembeda antara ketiga jenis paradigma tersebut. Berikut adalah butir pembeda beserta penjelasan ringkasnya. Pertama, perbedaan cita-cita. Menurut paradigma positivistik, setiap kajian harus bercita-cita menemukan semacam hukum kenyataan yang memungkinkan manusia meramal dan mengendalikan kenyataan. Paradigma ini, yang berkembang dalam tradisi pemikiran Perancis dan Inggris, akibat terobsesi dan dipengaruhi oleh tradisi ilmu-ilmu alam (natural sciences) yang tergolong Aristotelian. Ia bertumpu pada pandangan bahwa realitas hakikatnya bersifat materi dan kealaman. Manusia pun hakikatnya bersifat materi dan kealaman.

Paradigma interpretif bercita-cita memahami dan menafsirkan makna suatu kenyataan. Sedangkan paradigma refleksif bercita-cita memberdayakan dan membebaskan manusia dari semacam belenggu pemahaman atau kesadaran palsu. Paradigma interpretif dan refleksif, yang  berkembang dalam tradisi pemikiran Jerman, lebih humanistik dan memandang manusia sebagai manusia, serta terobsesi dan dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme (idealisme) Platonik. Tradisi pemikiran inilah  yang kemudian menjadi akar-akar pendekatan penelitian kualitatif. Tradisi pemikiran ini  acapkali diberi label fenomenologisme.

Tradisi ini menganggap jiwa manusia terutama adalah sebagai produser ide. Sejarah umat manusia pada kenyataannya diwarnai oleh ide-ide besar manusia. Perjalanan sejarah umat manusia bukan sekadar perubahan dari sebuah peristiwa ke peristiwa yang lain, melainkan perjalanan sejarah ide-ide dan kreasi manusia sebagai makhluk sadar dan bertujuan (purposive creators). Ini mengandung pengertian bahwa dunia ide, dunia makna, merupakan sesuatu yang teramat sentral pada diri manusia, kapan pun, dan di mana pun. Dengan demikian, memahami dunia manusia beserta perilakunya, termasuk perilaku berbahasanya, harus menukik ke tingkat dunia ide dan dunia makna yang terbenam dalam diri manusia itu sendiri. Sebab, apa yang tampak di permukaan (tingkat perilaku) sesungguhnya merupakan pantulan dari dunia ide atau dunia makna yang tersembunyi di bagian dalam. Dunia ide atau dunia makna itulah yang kemudian disebut fakta fenomenologis, yang untuk memahaminya sangat diperlukan suatu proses penghayatan, suatu proses interpretive understanding, yang oleh Weber disebut dengan  istilah verstehen (Faisal, 1998: 4).

Kedua, sifat dasar kenyataan. Menurut paradigma positivistik, kenyataan niscaya berifat stabil dan terpola, sehingga bisa ditemukan atau dirumuskan hukum-hukumnya. Paradigma interpretif berkeyakinan bahwa kenyataan bersifat cair dan mengalir, karena merupakan hasil kesepakatan dan interaksi manusia. Sedangkan menurut paradigma refleksif kenyataan niscaya penuh dengan pertentangan, dan dipengaruhi oleh struktur terselubung yang mendasarinya.

Ketiga, sifat dasar manusia. Menurut paradigma positivistik, manusia niscaya bersifat rasional dan memiliki kepentingan pribadi, serta dipengaruhi oleh kekuatan di luar dirinya. Paradigma interpretif beranggapan bahwa manusia berkemampuan membentuk makna dan niscaya memberi makna terhadap dunia mereka. Sedangkan menurut paradigma refleksif, manusia bersifat kreatif dan adaptif, tetapi cenderung terbelenggu dan tertindas oleh kesadaran palsu, sehingga kurang mampu menampilkan seluruh potensinya.

Keempat, peran akal sehat. Menurut paradigma positivistik, akal sehat (common sense) jelas berbeda dari dan tidak sahih dibanding pengetahuan keilmuan. Paradigma interpretif berpendapat bahwa akal sehat tidak lain merupakan seperangkat teori keseharian yang digunakan dan bermanfaat bagi orang-orang tertentu. Sedangkan menurut paradigma refleksif, akal sehat tidak lain merupakan keyakinan palsu yang menyelubungi kenyataan sebenarnya.

Kelima, wujud teori. Menurut paradigma positivistik, teori merupakan sistem logik, deduktif, dan menggambarkan saling keterkaitan antara sejumlah difinisi, aksioma dan hukum. Paradigma interpretif mengartikan teori sebagai suatu paparan tentang bagaimana seperangkat sistem pemaknaan dihasilkan dan dipertahankan. Sedangkan menurut paradigma refleksif, teori merupakan suatu kritik yang membuka atau mengungkap kenyataan sebenarnya dan membantu manusia melihat cara memperbaiki keadaan.

Keenam, tolok ukur kebenaran penjelasan. Menurut paradigma positivistik, suatu penjelasan benar apabila secara logik terkait dengan hukum serta didasarkan pada kenyataan. Paradigma interpretif berpendapat bahwa suatu penjelasan benar apabila menyuarakan kembali atau memang dipandang benar oleh para pelaku sendiri. Sedangkan menurut paradigma refleksif, suatu penjelasan benar manakala bisa memberi manusia seperangkat piranti yang diperlukan untuk mengubah kenyataan.

Ketujuh, bukti kebenaran. Menurut paradigma positivistik, bukti kebenaran harus didasarkan pada pengamatan yang tepat sehingga orang lain bisa mengulanginya. Paradigma interpretif berpendapat bahwa bukti kebenaran harus terpancang atau terkait konteks interaksi manusia yang cair dan mengalir. Sedangkan menurut paradigma refleksif, bukti kebenaran ditakar berdasar kemampuannya dalam menyingkap struktur terselubung yang mendasari kepalsuan atau ketidak-adilan.

Terakhir, kedudukan nilai-nilai. Menurut paradigma positivistik, ilmu harus bebas nilai (value free), dan tidak memiliki tempat kecuali ketika seseorang memilih topik kajian. Paradigma interpretif berpendapat bahwa nilai-nilai merupakan bagian tak terpisahkan dari kenyataan manusia (value bound). Tidak ada nilai yang salah atau benar, yang ada hanya berbeda. Sedangkan menurut paradigma refleksif, semua ilmu harus mulai dari pendirian menurut tata-nilai tertentu. Ada nilai-nilai benar, ada pula nilai-nilai yang salah.

Apa pun paradigma yang dipilih oleh peneliti, tampak jelas bahwa semua jenis kajian keilmuan harus: (1) dilakukan secara sistematik, (2) didasarkan pada data, (3) dilandasi wawasan teoretik, (4) disajikan secara teoretik, (4) disajikan secara eksplisit, (5) disemangati tindakan reflektif, dan (6) ditutup dengan akhiran terbuka (open-ended). Berikut diuraikan langkah kerja masing-masing pardigma tersebut:

 

1. Langkah Kerja Paradigma Positivistik

Dalam kegiatan kajian, paradigma positivistik terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) perumusan masalah (research problem), yang meliputi kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, yang mencakup kegiatan penelaahan teori dan hasil   kajian sebelumnya, (3) perumusan hipotesis, sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan, (4) pemilihan atau pengembangan rancangan kajian, (5) pengembangan piranti atau alat pengumpulan data, (6) pengumpulan atau pemerolehan data, (7) pengolahan data untuk menguji hipotesis, (8) penafsiran hasil kajian, dan (9) penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data, (10) penyatu-paduan hasil kajian ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Bila kajian tidak bermaksud menghasilkan pengetahuan eksplanatori, maka langkah-langkah yang terkait dengan pengajuan dan pengujian hipotesis tidak diperlukan. Dalam kajian yang tidak menguji hipotesis, kajian teori dan telaah hasil kajian terdahulu diperlukan untuk memperjelas dan menjabarkan konsep atau variabel yang diteliti, serta memberikan gambaran “sudah sejauh mana” kajian dalam topik tersebut telah dikaji oleh para peneliti lain.

Akhirnya, apa pun jenis bahan yang dikaji, kegiatan kajian berparadigma positivistik harus memenuhi kriteria: (1) kesahihan (validity), (2) keandalan (reliability), (3) objektivitas (objectivity), dan (4) kerapatan (generality). Kesahihan membuktikan bahwa apa yang dikumpulkan oleh peneliti memang sesuai dengan apa yang sesungguhnya hendak dikumpulkan. Keandalan membuktikan bahwa bila kapan dan oleh siapa pun data dikumpulkan, akan memberikan hasil yang kurang lebih sama. Objektivitas membuktikan tidak ada pengaruh pribadi peneliti terhadap hasil penelitian. Kerapatan membuktikan bahwa simpulan kajiannya bisa diberlakukan secara umum.

 

2. Langkah Kerja Paradigma Interpretif

Dalam kegiatan kajian, paradigma interpretif dijabarkan ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan pumpun kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya, (3) penentuan kasus atau bahan kajian, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing), (7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan (8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and intergrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika di lapangan. Fokus kajian, misalnya mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.

Terakhir, setiap kajian berparadigma interpretif harus memenuhi kriteria: (1) keterpercayaan (credibility), (2) kebergantungan (dependability), dan (3) kepastian (confirmability), dan (4) keteralihan (transferability). Keterpercayaan membuktikan bahwa data perolehan dan simpulan kajian benar-benar dapat dipercaya. Kabergantungan membuktikan bahwa temuan dan simpulan kajian benar-benar bersandar pada data mentah. Kepastian membuktikan bahwa kebenaran temuan dan simpulan kajian bisa dilacak berdasarkan data perolehan. Sedangkan keteralihan membuktikan bahwa temuan dan simpulan penelitian bisa diberlakukan pada kasus lain yang memiliki ciri-ciri sama dengan kasus yang dikaji.

 

3. Langkah Kerja Paradigma Refleksif

Dalam kegiatan kajian, paradigma refleksif terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan topik kajian, yang mencakup kegiatan memilih dan merumuskan masalah yang bernilai bagi pembangkitan kesadaran manusia, (2) penetapan pendirian filsafat dan atau ideologik, yang meliputi kegiatan penelaahan pemikiran-pemikiran yang relevan, dan perumusan secara eksplisit pokok-pokok pikiran yang digunakan sebagai landasan pengajuan kritik, (3) pemilihan kasus atau bahan kajian, dengan menentukan dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan strategi pemerolehan dan pengolahan data, yang terdiri atas kegiatan menetapkan piranti data, langkah dan teknik yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang mencakup kegiatan mengumpulkan data atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang melipuiti kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (contrasting), dan pembahasan (discussing), (7) perumusan simpulan kajian, yang dilakukan berdasarkan perenungan (reflextive thinking), dan (8) pengajuan rekomendasi baik untuk arah kajian lanjutan maupun agenda pemberdayaan (empowerment agenda) ke depan.

Seperti jenis kajian lain, kajian berparadigma refleksif juga dituntut untuk memenuhi kriteria keterpercayaan, kebergantungan, kepastian, dan keteralihan. Selain itu, karena cita-cita utamanya adalah membangkitkan kesadaran menuju perubahan, maka penafsiran tandingan (counter-interpretation) yang disajikan pun harus memenuhi kriteria kelayakan sebagai penafsiran tandingan. Ini mencakup kriteria relevansi (relevance), koherensi (coherence), kekritisan (criticalness), dan kebernalaran (reasonableness). Relevansi membuktikan bahwa topik maupun pendirian ideologik yang dipilih memiliki keterkaitan erat denngan tantangan atau masalah kemanusiaan. Koherensi membuktikan bahwa seluruh bangunan  penafsiran yang ditawarkan tidak saling bertentangan. Kekritisan membuktikan bahwa penelaahan berhasil membongkar suatu wacana hingga ke akarnya. Kebernalaran membuktikan bahwa penafsiran tandingan yang diajukan memiliki landasan penalaran yang kokoh.

5 Tanggapan to “Paradigma Penelitian Kualitatif”

  1. nisa arek UMSIDA Says:

    siip, mantab pak!! tp sayang penelitiaan skripsi saya skrng formatnya bukan PTK,,,, tp gpp pak insy d acra Olycon th ini sy ikut bwt PTK… trmksh atas referensinya y pak… semoga ilmu bpk bermanfaat bagi kami… ^_^.

  2. minu Says:

    mantaaaap pak..teruskan

  3. Sutoyo Says:

    ok siiip pak,paradigma revitalisasi logika manusia trs dikembangkan….kalau bisa bagaimana manusia mengetahui fakta non materi,sedangkan instrumen – epistemologi manusia banyak dipengaruhi oleh indra dan rasio? fastabiqulqoirot…….

  4. ISRAHELL Says:

    hemm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: